Showing posts with label Journey. Show all posts
Showing posts with label Journey. Show all posts

Sunday, 11 October 2015

The Day of Arafat 2015: Food Unifiying


Couple weeks ago, I fasted on the day of Arafat. Fasting on the day of Arafat is Sunnah, it is not compulsory but it should do. Those who are not performing pilgrimage are recommended to fast on 'Arafah day. It is expected that Allah will expiate the small sins committed in the previous two years.

On the way to Library after I had finished all my classes, I met my classmate from Bangladesh, Pinto. He informed me to join breakfasting ceremony, which was held by Arabian Community in UUM. But I was still blur about the location of the ceremony. He just mentioned in Maybank Residential.

Then I remembered about the place that I used to attend the previous ceremony in Ramadan with Abdulrahman. He was the one who introduced me to Yamani food at Dr. Jamal's House last year. I was very infatuated with that food until I was thinking to change all my favorite foods to Arab food.

I went there with Huda because previously, we had an appointment to breakfasting together in the Mosque. Luckily, we went there by motor bike whose belong to my country-mate. Otherwise, with the remaining energy that we had, walking in this huge campus like UUM was a nightmare for us.

The Surau, used for worship and religious instruction similarly with Mosque, is small. But the intimacy between International students from around the world, hush the hierarchy of the education and social stratification inside the community.

Eating together in one plate
We started eating after Maghrib prayer had done, because the Maghrib time was limited. When adzan had reverberated, Huda and I still on the way finding where was the Surau located. 

"You guys are late. hehe" greeted my friend, Gido, "Please you can take milk and date over there. I'm sorry if we provide the simplest meal for you". He smiled

"Thank you Gido. It is more than enough for us. I am really appreciated bro!"

After Maghrib prayer, everyone had folded up their sajadah. They started pulling off the plastic base for about 3-5 meters along the foyer. This plastic was used to collect unexpected rice going out from the plate. As well as, it would be easy to clean the Surau from dirt.

Chicken Mandi Rice

A big plate was seen from the entrance door of my left side with Dr. Jamal carried on it proudly on his shoulder. Then, the rest of the members carried sequentially.

"Here please, you can eat with 4-5 people" he said

But that was not the end of the section. There was a dessert, sweet cake, that could freeze my mind. The taste was totally awesome. In the first bite, my eyes goggled and I looked at Huda.

"Wow, seriously this cake is freezing my brain. It is tasty man!" I told Huda, "come to take a bite".

"Aha, Indeed. It is very tasty!" he giggled, "thou from the appearance is simple, but the tasty is unpredictably amazing. It has milk, very sweet, and little bit coconut inside" he tried to be food examiner like in serial Tv Master Chef.

"Do they still have extra cake? haha" I whispered

"Maybe, me too. I want to take again" he replied

Basbousa Cake
I enjoyed eating in this manner. Surprisingly, not all Muslims are eating in this manner nowadays. But, there are valid reasons why we should eat in this style. Eating together can save food from waste, unity and feelings of unity among people eating from one plate, lastly, it could develop and sense of sharing available resources.

PS: 
  • Thank you to the community who organized this event.
  • If you eat together, you will forget the amount of the food that you eat. Please be aware for people, especially girls, who always measure food that they eat and try to be slim.
Share:

Thursday, 2 July 2015

Mahasiswa: 3 Perempuan, 2 Negara dan 1 Hari (2)

Antrian imigrasi untuk masuk ke Thailand yang memanjang sejak pagi.





Sesampainya di imigrasi, saya terkejut melihat antrian yang sudah sangat panjang. Mayoritas mereka yang ingin masuk ke Thailand adalah para perantau yang ada di Malaysia. Karena hari itu adalah hari Sabtu, sangat wajar apabila antrian imigrasi sangat panjang.

Sebagian dari mereka adalah para pelancong yang melintasi Singapore-Malaysia-Thailand. Sebagian etnis dari cina Singapore menggunakan bus 3 negara yang sudah menunggu mereka di depan pintu kedatangan.

Saya memutar otak untuk bisa masuk ke Thailand dengan cepat. Saya melihat ada loket yang kosong, dan itu tertulis "Untuk Warga Thailand". Saya berpura - pura untuk bertanya dimana saya mendapatkan kartu tanda masuk. Kartu tersebut harus diisi untuk informasi terkait kunjungan kita di Thailand.

Setelah saya mendapat kartu tersebut, saya pun mengisi semua identitas terkait. Namun, ada satu yang membuat saya berhenti mengisi, yaitu "Dimana saya akan tinggal?". Seketika, teman saya Miskah membantu mengisikan alamat yang setelah saya tanyakan itu adalah alamat rumah dia. Saya tidak peduli rumah siapapun itu, yang paling penting adalah untuk masuk Thailand yang sudah di depan mata.

Karena loket tersebut adalah untuk warga Thailand, ketiga teman saya itu langsung antri di loket. Saya yang 'bule' pun ikut mereka, dan semoga petugas tidak memarahi saya nanti.

"Swadikap!" sapa wanita berusia sekitar 50 tahunan dan saya pun membalasnya

Mungkin karena aksen yang berbeda, ibu tersebut langsung mengerutkan dahi sebagai bentuk keheranan kenapa saya ada di loket ini. Dan saya pun senyum dengan memberikan paspor Indonesia saya.

"You are Indonesian? kamu orang Indonesia?" jawab dia,"Tunjukan uang cash minimal RM 2000 ringgit."

Saya pun terkejut mendengar perintah ibu tersebut. "What for madam? untuk apa madam?" saya menanyakan.

"Ini sudah regulasi Thailand untuk orang Indonesia dengan menunjukan uang tersebut sebelum masuk Thailand", ibu itu menjelaskan dengan bahasa Inggris yang berantakan.

Mungkin maksud dari ibu tersebut bukan untuk orang Indonesia saja, tetapi untuk para pelancong dari negara - negara ASEAN. Tidak usah khawatir, hanya menunjukkan saja. Dan kita sudah mendapat visa selama sebulan melancong.

Saya pun kebingungan, bagaimana mengatasi masalah ini, ditambah bahasa ibu tersebut yang sudah berantakan. Saya pun menyimpulkan secara tersirat dari setiap penjelasan yang dia jelaskan. Teman saya Miskah yang berada di belakang saya secara spontan menjelaskan kepada ibu tersebut dengan bahasa Thai. Saya hanya melihat mereka di depan loket saling beragumen dengan bahasa 'alien'.

"Ah, Student? Pelajar?" ibu tersebut langsung melihat saya.
"Yes!" saya tersenyum ramah.
"Berikan kartu pelajarmu kalau kamu memang pelajar!" dia tersenyum dan saya memberikan kartu pelajar.
"Baiklah, kamu berdiri di situ dan menghadap ke kamera. Oh ya! Jangan lupa untuk mengangkat kartu pelajarmu itu juga"

Terkadang kita memang tidak harus mengikuti birokrasi yang berlaku. Birokrasi terkadang membuat sesuatu yang mudah menjadi sulit. Tetapi, kita harus tahu konteksnya mengikuti birokrasi yang berjalan supaya 'aman'.

Kenapa kita harus menunjukan RM 2000? Itu untuk menjamin bahwa kita yang datang sebagai pelancong memberikan pendapatan bagi negara dengan uang yang kita bawa, bukan datang untuk menyusahkan negara tujuan. Dan untuk itulah fungsi dari negara, menjaga kedaulatannya. Yang perlu kamu lakukan ketika di posisi ini adalah tetap tenang dan tidak panik.

"Pai! Selamat Datang di Thailand!" Ibu itu tersenyum
"Kop Khun kah! terima kasih" saya membalasnya

Akhirnya !

Miskah dan Tuan
Mereka baru tersadar kalau hari ini adalah hari sabtu, yang tentunya tujuan utama kita adalah kantor imigrasi di Songkla tutup. Pilihan alternatifnya adalah jalan - jalan ke Hatyai.

Transportasi disekitar perbatasan adalah dengan menggunakan van. Tarif ke Hatyai sekitar 480 Baht (RM 5 = Rp. 18,000) dan perjalanan ditempuh sekitar 1 jam.

Kita mampir dirumah makan sekitar perbatasan dan penukaran uang Baht juga ada disampingnya. Mereka belum sarapan pagi ini. Untuk saya, 2 lembar roti dan 1 telur sudah berada di perut yang sudah saya makan ketika di asrama. Saya sudah terbiasa tidak makan banyak ketika bepergian, untuk menanggulangi "panggilan alam" yang secara tiba - tiba.

Kita mengunjungi 3 tempat di Hatyai, yaitu Central Festival Mall, pasar tradisional, dan GreenWay. Mall mungkin sudah banyak tersebar di Surabaya, yang berbeda di dalamnya hanya bahasa dan makanan. Makanan disini susah untuk mencari kehalalan-nya. Kita sebelum membeli, harus mencari gambar halal terlebih dahulu. Kita memutuskan untuk makan di pasar tradisional yang penjualnya adalah orang muslim dari Narathiwat, salah satu provinsi di Thailand.

Malam hari setelah isya', kita kembali ke kampus. Ada yang menarik ketika saya sholat di sekitar perbatasan. Surau atau musholla terdapat di luar loket, berarti saya sudah meninggalkan Thailand setelah menerima stempel keluar. Toiletnya ada di area dalam Thailand.

Setelah sholat, saya baru ingat tas kecil saya tertinggal di toilet dan pastinya saya harus masuk Thailand lagi melalui jalan kecil disamping loket. Dan tidak ada petugas yang berjaga disana. Mungkin inikah jalur tikus yang biasanya digunakan orang untuk berbuat jahat?

Sarapan pagi ala Thai

Van ini yang akan mengantarkan kita ke Hatyai


Di dalam van plus musik yang stereo.
Khadijah, Tuan dan Miskah

Tuk-tuk, kendaraan pickup yang mirip angkot

Tuk-Tuk


Yen Tafow, Makanan ini rasanya mirip bakso dan sedikit asin.
Makan siang

yang khas dari restaurant Thai, 4 bumbu ini selalu ada.

Lorong

Potret kehidupan di jembatan penyebrangan di Hatyai

Pasar tradisional

Suasana luar

Ibu penjual sayuran

Suasana pasar di sore hari

Bejalan di depan masjid


Suasana jalanan Hatyai di sore hari
Uang Baht yang tersisa

Greenway, sejenis pasar bekas di Thailand

Salah satu tempat beribadah umat Buddha


Share:

Wednesday, 1 July 2015

Mahasiswa: 3 Perempuan, 2 Negara dan 1 Hari (1)

Setelah bangun shubuh, saya melihat ada tiga panggilan tak terjawab di handphone, tertulis atas nama Miskah. Mungkin dia telah menelepon ketika saya ada di toilet, ada urusan hajat manusia di pagi hari. Saya menunggu untuk panggilan ke empatnya, dan biasanya orang yang telah menelpon berkali - kali menandakan orang tersebut sangat memerlukan bantuan. Dan terbukti, tak berselang beberapa lama dia kembali menelepon.

"Ain free tak hari ini?" dia menanyakan, "jom, pi Thailand! (Ayo pergi ke Thailand)"

Saya kira, saya telah mendengar pertanyaan yang salah, dan mencoba mengulangi pertanyaan dia kembali. Dan dia mengulangi pertanyaan yang sama.

"Oh ya, tak busy sangat. Ada apa Miskah?", menanyakan dengan suara yang serak setelah bangun tidur.

"Ini kita mau urus dokumen imigrasi, lagi ada masalah ini! Kita pergi bersama Tuan Arina dan Khadijah", dia menjelaskan.

Saya masih heran, ada urusan apa sama saya? Saya juga bukan warga Thailand. Dan saya kembali menanyakan.

"So? Kenapa saya di ajak?"

"Iya, Aba dan abang tak akan bagi apabila kita pergi ke Thailand semuanya perempuan! Harus ada seorang laki - laki yang menemani kita".

"Kenapa tidak boleh? Itu kan negaramu sendiri. Kenapa mesti takut?", saya ingin mengorek penjelasan dia.

"Karena akhir - akhir ini ada penculikan yang melibatkan perempuan - perempuan di Thailand untuk diperjual-belikan. Jadi itulah alasan kenapa saya ajak kamu".

Hanya ada satu kata dalam pikiranku saat itu, aneh. Memangnya kalau saya ikut, apa tidak ada ancaman penculikan? Apa karena ada seorang pria di samping mereka? Seorang pria warga asing, yang tidak tahu arah kemana tujuan dijadikan tameng buat feminisme mereka. Saya hanya tersenyum, setelah dia menjelaskan alasannya tadi.

"Oh begitu alasannya. Baik, saya akan menemani kalian. Kapan kita akan pergi?"

"Hari ini pukul 9 pagi!!. Taxi akan datang sekitar 8.30", jawab dia.

"HAH?? serius kamu? Kenapa mendadak sekali kamu memberitahuku?", saya tercengang ,"Baiklah, saya akan menyiapkan diri, nanti kamu hubungi saya lagi apabila sudah siap".


Thailand, negara dengan penduduk sekitar 66 juta dan mayoritas penduduknya adalah penganut Buddha. Saya tidak punya persepsi lain, selain apa yang saya dapatkan waktu di Sekolah Dasar (SD). Negeri dengan sebutan Negeri Gajah Putih, Negeri Seribu Pagoda dan mempunyai raja bernama Raja Bhumibol Adulyadej serta bermata uang Baht. Ilmu dasar itu saya tahu ketika ada tugas akhir untuk merangkum negara - negara ASEAN dengan lisan.

Belum lagi berita tentang bom - bom yang semakin sentar terdengar di Thailand Selatan, antara Muslimin minoritas Pattani dengan tentara pemerintahan. Dilema antara ingin membantu ketiga teman saya itu dengan berita bom dari media yang tersebar.

Saya sangat suka dengan program salah satu tv di Indonesia, Backpacker, Yulika Satria Daya sebagai presenternya di salah satu acaranya menampilkan jalur merah di Thailand Selatan. Pikiran saya bercampur aduk saat itu. Tetapi, saya harus memenuhi janji saya pada mereka.
Kami melewati area yang dinamakan duty-free shop. Imigrasi Thailand sudah terlihat

Pos pemeriksaan sisi Malaysia

Gerbang Imigrasi

Thailand dengan kampus hanya ditempuh sekitar kurang dari 30 menit untuk sampai diperbatasan kedua negara dengan taxi. Persepsi dari media tersebut sudah melekat di pikiran.

Kita memasuki checkpoint pertama, sebelum keluar Malaysia. Tenda checkpoint Tentera Diraja Malaysia lengkap beserta senjata laras panjangnya di sebelah kiri memeriksa kelengkapan dokumen kita.

Taxi boleh mengantarkan kita sampai dengan gerbang imigrasi Thailand yang berjarak sekitar 2-4 km setelah keluar imigrasi Malaysia. Di antara kedua negara ini ada tempat dimana duty-free shop berlaku. Mereka menjual berbagai barang dengan bebas pajak. Tetap saja, meskipun bebas pajak, harga yang ditawarkan juga hampir sama. Kebanyakan yang terkenal dijual disini adalah jenis - jenis miras, coklat, dll.



Bersambung. . .
Share:

Wednesday, 11 June 2014

Holiday : Guci 'The Natural Spring Water" - Tegal, Indonesia



Landscape









Goat's Milk


Stranger's Look



Peak Season

New Year's Holiday 2014

Too Crowded

Water's Spring

Little Brother and Cousin


Lovely Family

Lovely Fams

Traditional Bus

Fog

Local's Production (Pineapple) 

Who knows this? Makes ur toilet smelly :D

Fajar's Time

After Fajr around 18 Celcius

With little bro and cousin

TheVilla's



I've seen this grandma so active


Jogjakarta

The Market

The way they walk

That's only happened in My country haha

Gudeg, traditional food from Jogja



I've met my friend when we were studying in Malaysia 

Before took off to home

Relaxing

Share: